[Kultwit] Tentang Islam Liberal

Tinggalkan komentar

Berikut ini saya copy dari kultwitnya Akmal Sjafril (lagi-lagi) tentang JIL (Jaringan Islam Liberal) pada hari Selasa, 08 Maret 2011 tanpa ada yg ditambah maupun dikurangi. Mohon dibaca sampai baris akhir baru komentar :)

01. Menyambut ultah JIL, ada baiknya kita membahasnya sedikit. Semacam napak tilas sejauh apa perkembangannya. #Islib

02. Jati diri JIL sebenarnya bisa kita lihat pada situsnya http://bit.ly/ePnfGJ. Informasi ini tidak ditutup2i. #Islib

03. Di link tsb, kita bisa melihat enam landasan dr apa yg mrk sebut sbg ‘Islam liberal’. #Islib

04. Landasan pertama adalah membuka pintu ijtihad pd semua dimensi Islam. #Islib

05. Kata “semua” dlm landasan pertama mmg benar2 ada. Jd bagi Islam liberal, tidak ada yg final dlm Islam. #Islib

06. Ini bertentangan dgn artikel di blog @ulil http://bit.ly/dketRK, dimana Ulil mengatakan bhw tdk semua blh diubah. #Islib

07. Dlm artikel tsb, @ulil memberi kesan bhw Islam liberal tdk mencoba mengubah2 hal yg sdh pasti dlm Islam. #Islib

08. Bagaimanapun, kata “semua” dlm landasan pertama Islam liberal, sesuai rumusan JIL, benar2 ada. #Islib

09. Landasan kedua adalah mengutamakan semangat religio etik, bukan makna literal teks. #Islib

10. Dari sini kita melihat pelaksanaan langsung dr landasan pertama, yaitu pengaburan sistem nilai.#Islib

11. Apa makna semangat religio etik? Apa batas2nya? Bagaimana mengaplikasikannya? Tidak ada batasan pasti. #Islib

12. Sebaliknya, hal yg sudah pasti (yaitu Al-Qur’an dan As-Sunnah, yg mrk sebut “teks”) justru diabaikan. #Islib

13. Dgn demikian, kita bisa katakan bhw Islam liberal memang membenci keyakinan dan mencintai ketidakpastian. #Islib

14. Ini mengingatkan kita pd QS 2:2, dimana secara tegas dipastikan bhw TIDAK ADA KERAGUAN thd Al-Qur’an. #Islib

15. Hal tsb sangat kontras dgn kebatilan dan kekufuran yg selalu diasosiasikan dgn keraguan dan kegelapan. #Islib

16. Menurut landasan kedua ini, mengikuti Qur’an dan Sunnah saja akan melumpuhkan Islam. #Islib

17. Sedangkan solusi yg mrk tawarkan adalah mengikuti semangat religio etik, yg tdk jelas batasannya spt apa. #Islib

18. Pdhal, batasan kebenaran di masing2 agama jelas berbeda2. Sangat mungkin JIL mengambil ajaran dr luar Islam. #Islib

19. Mengenai hal ini, sudah tdk ditutup2i lagi. Banyak aktifis #Islib yg mengaku mengambil ajaran dr luar Islam.

20. Landasan ketiga adalah mempercayai kebenaran yang relatif, terbuka dan plural. #Islib

21. Relativisme adalah ideologi yg kontroversial, bahkan dianggap aneh oleh sebagian org. #Islib Lagi

Rabu Terakhir Bulan Safar

17 Komentar

bulanKarena kebingungan mencari artiket yang shahih terkait dengan Rabu Terakhir Bulan Safar via Google, maka saya pun bertanya pada temen di twitter. Dan berikut ini BBM dari ustadz temen saya (semoga Allah merahmatinya).

Ikhwatul Iman Rahimakumullah.Saya mendapat Sms,BBM yg bunyi sbb:”Besok pagi Rabo Akhir bln Shafar,Allah menurunkan 360 bala.Hari Rabo akhir bln Shafar adalah hari paling sial.Maka dlm Riwayat: dianjurkan Shalat Sunnah Li Daf ‘il bala’ 2×2 Rakaat,dg membaca setiap Rakaat:Al Fatihah 1X,Al Kautsar 17X,Al Ikhlas 5X,An Naas 1X,Al Falaq 1X.Kemudian baca Shalawat Mubrom”

Jawaban saya:

(1).Demi Allah tdk ada satupun hadits shahih dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam ttg shalat daf’il bala’ di bln Shafar(bln ke 2 thn hijriah), dan juga tdk ada satupun hadits shahih ttg shalawat Mubrom.Kalau ada yg mengatakan ada hadits shahih ttg dua hal ini,maka org itu tlh berdusta dg sedusta dustanya atas nama Nabi.Berdusta atas nama Nabi adalah dosa besar dan pelakunya diancam Nabi bakal masuk neraka.

“Dari Ali bin Abi Thalib,bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:”Jangnlah kamu berdusta atas namaku.krn org yg berdusta atas namaku,maka hendaklah ia masuk neraka”(HSR.Bukhari Fath Bari I/201.Muslim dlm kitab Ilmu no71,dan selain keduanya).Hadits yg senada dg ini Mutawattir krn diriwayatkan olh lbh dari 60 org sahabat.

(2).Keyakinan bhwa bln Shafar adalah Bulan Sial adalah org2 Kafir Musyrikin Jahiliyah Quraisy.Nabi tlh mengingkari dan menolak keyakinan yg batil dan sesat ini.

a.Dari Abu Hurairah,Nabi bersabda:”Tdk ada penyakit yg menular dg sendirinya,tdk ada Thiyyarah(meramal nasib dg burung),juga tdk ada Haamah(anggapan sial krn mendengar suara burung hantu)dan tdk ada pula Shafara(anggapan sial di bulan Shafar)”(HSR.Bukhari 5757.Muslim 2220).

b.”Org2 jahiliyah dahulu merasa sial dg bln Shafar,maka Nabi bersabda(mengingkari keyakinan itu):Tidak ada (sial)pada Shafar”(HSR.Abu Dawud 3414).

c.Menganggap sial:hari,bulan atau tahun adalah syirik.Dari Abdullah bin Mas’ud,Nabi bersbda”Menganggap sial terhadap sesuatu adalah syirik,adalah syirik,adalah syirik,beliau mengulangi 3X”(HSR.Bukhari,Abu Dawud,Ahmad,Tirmidzi,Ibnu Majah dan Hakim).

(3).Meyakini bulan shafar sbg “Bulan Sial” adalah Syirik sbgmana keyakinan Kafir Musyrik Quraisy.Ingatlah ya ikhwani,bahwa SYIRIK ADALaH DOSA BESAR YG TDK DIAMPUNI ALLAH.Qs.4:48,& 116.SYIRIK menyebabkan AMAL AMAL KITA DIHAPUS OLEH ALLAH,Qs.6:88 & 39:65.

(4)Janganlah kita tertipu dg bisikan setan dari kalangan jin dan ajaran sesat setan darib kalangan manusia,yg menetang sunnah Nabi,Qs.6:112.

(5).Hati hatilah jgn sembarang mengikuti kawan/teman yg mengajakmu menyalahi sunnah,krn temanmu itu akan menyeretmu dan membuatmu menyesal dlm Neraka,Qs.25:27-29.

(6)Jgn mengikuti apa apa yg kita tdk punya ilmu krn itu jln setan,Qs.17:36,7:33,22:3.

(7).Jgn pula taqlid(mengekor tanpa ilmu) kpd guru yg tdk berilmu sebab kita akan menyesal di neraka,Qs.33:67-68.

(8).Bacalah doa : “ALLAAHUMMA LAA YA’TI BILHASANAATI ILLAA ANTA.WALAA YADFA’US SAYYI-AATI ILLAA ANTA WALAA HAULA WALAA QUWWATA ILLAA BIKA”= “Ya Allah, tidak ada yg kuasa mendatangkan kebaikan kecuali Engkau.Tdk ada pula yg kuasa menolak kejelekan kecuali Engkau.Tdk ada daya dan upaya kecuali dg bantuanMu”(HR.Abu Dawud).

Sekian.

Semoga bermanfaat. Wallahu a’lam bishshowab..

Puasa Asyura

1 Komentar

Disalin dari Majalah As-Sunnah edisi 03/V/1421H-2001M

Sejarah dan keutamaan Puasa Asyura

Sesungguhnya hari Asyura (10 Muharram) meski merupkan hari bersejarah dan
diagungkan, namun orang tidak boleh berbuat bid’ah di dalamnya. Adapun yang
dituntunkan syariat kpd kita pada hari itu HANYALAH BERPUASA, dengan dijaga
agar jangan sampai tasyabbuh dengan orang Yahudi.

“Orang2 Quraisy biasa berpuasa pada hari asyura di masa jahiliyyah,
Rasulullah pun melakukannya pada masa jahiliyyah. Tatkala beliau sampai di
Madinah beliau berpuasa pada hari itu dan memerintahkan umatnya untuk
berpuasa.” (HR Bukhari 3/454, 4/102, 244, 7/ 147 dan Muslim 2/792, dll)

“Nabi tiba di Madinah, kemudian beliau melihat orang2 Yahudi berpuasa pada
hari asyura. Beliau bertanya:”Apa ini?” Mereka menjawab:”Sebuah hari yang
baik, ini adalah hari dimana Allah menyelamatkan Bani Israil dari musuh
mereka, maka Musa berpuasa pada hari itu sebagai wujud syukur. Maka beliau
Rasulullah menjawab:”Aku lebih berhak terhadap Musa daripada kalian
(Yahudi), maka kami akan berpuasa pada hari itu sebagai bentuk pengagungan
kami terhadap hari itu.” (HSR Bukhari 4/244, 6/429)

“Rasulullah ditanya tentang puasa Asyura, beliau menjawab:”Puasa itu bisa
menghapuskan dosa-dosa kecil pada tahun kemarin.”(HSR Muslim 2/818-819)

Cara Berpuasa di Hari Asyura

1. Berpuasa selama 3 hari tgl 9, 10, dan 11 Muharram*

Berdasarkan hadits Ibnu Abbas yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dengan
lafadz sebagaimana telah disebutkan oleh Ibnul Qayyim dalam al-Huda dan
al-Majd Ibnu Taimiyyah dalam al-Muntaqa 2/2:

“Selisihilah orang yahudi dan berpuasalah sehari sebelum dan setelahnya.”

Dan pada riwayat ath-Thahawi menurut penuturan pengarang al-Urf asy-Syadzi:

“Puasalah pada hari Asyura dan berpuasalah sehari sebelum dan setelahnya dan
janganlah kalian menyerupai orang Yahudi.”

Namun di dalam sanadnya ada rawi yang diperbincangkan. Ibnul Qayyim berkata
(dalam Zaadud Ma’al 2/76):”Ini adalah derajat yang paling sempurna.” Syaikh
Abdul Haq ad-Dahlawi mengatakan:”Inilah yang Utama.”

Ibnu Hajar di dalam Fathul Bari 4/246 juga mengisyaratkan keutamaan ini. Dan
termasuk yang memilih pendapat puasa 3 hari tersebut adalah asy-Syaukani
(Nailul Authar 4/245) dan Syaikh Muh Yusuf al-Banury dalam Ma’rifus Sunan
5/434.

Namun mayoritas ulama yang memilih cara ini adalah lebih dimaksudkan utk
berhati-hati. Ibnul Qudamah di dalam al-Mughni 3/174 menukil pendapat Imam
Ahmad yang memilih puasa 3 hari pada saat timbul kerancuan dalam menentukan
awal bulan.

2. Berpuasa tgl 9 & 10 Muharram

Mayoritas Hadits menunjukkan cara ini: Lagi

Hukum Menerobos Sarang Musuh

2 Komentar

Banyak terjadi kesalahpahaman tentang riwayat-riwayat yang terdapat dalam hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan para sahabatnya berkenaan tentang masalah ini, disebabkan ketidaktepatan mereka dalam menempatkan nash-nash tersebut pada posisi yang semestinya yang menyebabkan mereka tidak bisa membedakan antara hukum bom bunuh diri dengan menyerang ke barisan musuh (sarang musuh) sampai mati. Dalam masalah ini telah terjadi tiga kubu:

- Pertama adalah kubu yang membawa nash-nash tentang menyerang ke barisan musuh kepada bolehnya melakukan bom bunuh diri, sebagaimana yang difahami oleh para hizbiyyun dari kalangan Ikhwanul Muslimin dan selainnya.
– Kedua adalah kubu yang menganggap seluruhnya adalah tindakan bunuh diri, termasuk menyerang ke sarang musuh hingga mati. Ini difahami oleh sebagian orang yang mengaku Ahlus Sunnah tapi jahil dan tidak mampu membedakan antara dua keadaan.
– Yang benar adalah Lagi

Fatma Ulama Tentang Bom Bunuh Diri

1 Komentar

Para aktivis pergerakan dari kalangan hizbiyyun yang melakukan amalan hanya bermodal semangat dan tidak berusaha memecahkan suatu permasalahan secara ilmiah berdasarkan pandangan yang shahih dari Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam serta tidak menjadikan ulama rabbani sebagai rujukan, menyebabkan mereka melakukan pembelaan terhadap amalan yang batil ini.

Kalangan “ulama” mereka pun berusaha mendukung dengan cara menempatkan dalil namun tidak pada tempatnya. Bahkan tidak sedikit dari mereka merendahkan fatwa ulama yang melarang amalan ini dengan menyatakan: “Mereka adalah ulama yang tidak mengerti waqi’ (kondisi).” “Mereka hanya pantas mengurusi masalah haid dan nifas saja. Adapun masalah jihad, maka ada ulama tersendiri.” Masya Allah!

Ternyata yang mereka anggap sebagai ulama adalah para “ulama gadungan” yang memiliki pemikiran Khawarij, Quthbiyah, dan Ikhwani seperti Salman Al-Audah, Sulaiman Al-Ulwan, Ibrahim Ad-Duwaisy, Sa’id bin Musfir, Yusuf Al-Qardhawi, dan yang semisal mereka. Bahkan di antara mereka ada yang menukilkan ijma’ para ulama tentang bolehnya hal tersebut.

Bukankah ini penukilan yang aneh? Bagaimana mungkin terjadi ijma’ dalam keadaan para ulama besar mengingkari perbuatan ini, seperti Al-Allamah Muhammad Nashiruddin Al-Albani, Abdul Azis Alus Syaikh, Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin, dan yang lainnya rahimahumullah ta’ala.
(Lihat Tahrirul Maqaal Fi Annahu Intihar Wa Laisa Isytisyhaad, Abu Muhammad Nashir As-Salafi, 17)

Berikut ini adalah fatwa dari Al-Allamah Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah ta’ala: Lagi

Bunuh Diri

2 Komentar

Penulis : Al Ustadz Abu Karimah Askari bin Jamal Al-Bugisi

Jihad di dalam Islam merupakan salah satu amalan mulia, bahkan memiliki kedudukan paling tinggi. Sebab, dengan amalan ini seorang muslim harus rela mengorbankan segala yang dimiliki berupa harta, jiwa, tenaga, waktu, dan segala kesenangan dunia untuk menggapai keridhaan Allah Azza wa Jalla. Sebagaimana yang telah difirmankan Allah Ta’ala:

“Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin, diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Meraka berperang di jalan Allah. Lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil, dan Al-Qur’an. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan itulah kemenangan yang besar.” (At-Taubah:111)

Karena amalan jihad merupakan salah satu jenis ibadah yang disyariatkan oleh Allah Azza wa Jalla, maka di dalam mengamalkannya pun harus pula memenuhi kriteria diterimanya suatu amalan. Yaitu ikhlas dalam beramal dan sesuai dengan tuntunan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Jika salah satu dari kedua syarat tersebut tidak terpenuhi, maka amalan tersebut tertolak. Hal ini telah disebutkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sebagaimana dalam hadits Abu Musa Al-Asy’ari radhyialllahu ‘anhu: Lagi

Toleransi

2 Komentar

Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam toleransi

Sebagian orang terkadang masih kabur tentang pemahaman makna toleransi, dia mengira bahwa ada beberapa perkara yang bertolak belakang dengan makna toleransi. Padahal perkara tersebut adalah inti dan kunci pintu toleransi. Inti dan kunci dari pintu toleransi itu diantaranya.

[1]. Marah Ketika Keharuman Allah Dilanggar

Allah Ta’ala berfirman.
“Artinya : Dan orang-orang yang menjauhi dosa-dosa besar dan perbuatan keji, dan apabila mereka marah, mereka memberi ma’af dan (bagi) orang-orang yang menerima (mematuhi) seruan Tuhannya dan mendirikan shalat, sedang urusan mereka (diputuskan) dengan musyawarah antara mereka dan mereka mema’afkan sebagian rizki yang Kami berikan kepada mereka. Dan (bagi) orang-orang yang apabila mereka diperlakukan dengan dholim, mereka membela diri” [Asy-Syura : 37 - 39]

Dari Aisyah Radliyallahu anha dia menceritakan.

“Artinya : Tidaklah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam disuruh memilih antara dua urusan melainkan beliau memilih yang paling mudah, selama tidak mengandung dosa, bila mengandung dosa, beliau adalah orang yang paling jauh darinya, dan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah marah sekalipun kecuali bila keharuman Allah dilanggar, beliau marah karena Allah” [Hadits Riwayat Bukhari 6/419-420 dan Muslim 2327]

[2]. Menuntut Hak

Seorang lelaki datang menuntut haknya kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, dia berlaku kasar kepada belliau, para shabatpun hendak menghardiknya, namun beliau bersabda : “Biarkanlah dia, karena orang yang mempunyai hak untuk berbicara”

Mencampur Adukkan Antara Loyalitas Dan Toleransi

Al-Ustadz da’i Sayyid Quthub Rahimahullah menjelasakan : “Sesungguhnya toleransi Islam bersama Ahlul Kitab merupakan satu sisi dan menjadikan mereka sebagai kekasih adalah sisi lain lagi. Namun kedua hal ini, terkadang masih kabur bagi sebagian kaum muslilim yang jiwanya tidak jelas melihat secara sempurna tentang hakikat agama dan tugasnya. Gambarannya sebagai pergerakan manhaj realistis mengarah kepada perkembangan yang terjadi di muka bumi ini, sejalan dengan gambaran Islam yang tabi’atnya berbeda dengan segenap gambaran yang diketahui oleh manusia. Dari sini gambaran-gambaran dan aturan-aturan yang menyelisihi sebagaimana bertolak belakang pula dengan syahwat manusia, penyimpangan dan kefasikan mereka dari manhaj Allah. Dan masuklah ia ke dalam medan laga. Tiada alasan lagi, dia harus mengembangkan realita baru yang dia inginkan dan akan terjadi pergerakan positif yang berkembang.

Orang-orang yang masih kabur tentang hakekat kebenaran, nilai hakikat akidah mereka berkurang menurut perasaan yang bersih. Sebagaimana IQ yang cerdas menunjukkan berkurangannya pengatahuan mereka tentang tabi’at perlagaan ini dan tabi’at sikap ahlul kitab tentangnya.

Mereka melupakan pengarahan-pengarahan Al-Qur’an yang jelas gamblang tentang masalah ini, sehingga mereka mencampuradukkan antar seruan Islam kepada sikap toleransi dalam bermuamalah dengan ahlul kitab, berbuat baik kepada mereka dalam masyarakat muslim yang mereka tempati dan menunaikan hak-hak mereka, dengan sikap loyalitas yang tidak boleh diberikan kecuali kepada Allah, Rasul-Nya dan kaum muslimin.

Mereka melupakan apa yang telah ditetapkan dalam Al-Qur’an, bahwa ahlul kitab sebagiannya adalah pembela atas sebagian yang lain dalam memerangi kaum muslimin, hal ini adalah watak yang melekat pada mereka, mereka marah kepada seorang muslim karena keislamannya, mereka tidak akan ridlo kepada muslimin kecuali bila dia meninggalkan agamanya dan mengikuti agama mereka, mereka senantiasa memerangi Islam dan kaum muslimin, dan mereka telah menampakkan kebenciannya lewat mulut-mulut mereka sementara apa yang mereka sembunyikan dalam hati lebih besar lagi dan seterusnya dari ketetapan-ketetapan yang tegas ini.

Sesungguuhnya seorang muslim dituntut untuk bersikap toleran terhadap ahlul kitab, namun dia dilarang menunjukkan sikap loyalitas kepada mereka dalam artian saling membela dan bersahabat karib dengan mereka.

Sesungguhnya cara dia untuk memantapkan agamanya dan merealisasikan aturan-aturannya tidak mungkin sejalan dengan cara ahlul kitab, walaupun mereka menampakkan sikap toleransi dan loyalitas namun sikap ini tidak sampai pada keridloan mereka supaya dia tetap pada agamanya dan realisasi aturannya, dan tidak akan cukup buat mereka loyalitas sebagian atas sebagian yang lain untuk memerangi dan menipunya.

Sungguh merupakan puncak kedunguan dan kelengahan bila kita mengira, bahwa kita dan mereka dapat sejalan dan bergandengan tangan untuk memantapkan agama ini dihadapan orang-orang kafir dan atheis, bila perlagaannya bersama muslim ………” [Fi Dhilalil Qur'an 2/759-760]

almanhaj.or.id

Older Entries

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.