Arsip untuk ‘hadits’ Kategori

Mencintai Milik Saudaranya Seperti Mencintai Miliknya

Dari Hamzah, Anas bin Malik Radhiyallahu ‘anhu, pelayan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, “Tidak beriman seseorang diantara kamu sehingga mencintai milik saudaranya (sesama muslim) seperti ia mencintai miliknya sendiri” (H.R Bukhari dan Muslim)

Penjelasan:

Demikianlah dikatakan dalam shahih Bukhari, digunakan kalimat “milik saudaranya” tanpa kata yang menunjukkan keraguan. Dalam shahih Muslim disebutkan “milik saudaranya atau milik tetangganya” yang menunjukkan keraguan.

Para ulama mengatakan maksud “tidak beriman” adalah imannya tidak sempurna. Dan maksud “mencintai milik saudaranya” adalah mencintai kebajikan atau mencintai hal yang mubah. Hal ini ditunjukkan riwayat Nasa’i yang berbunyi, “Sampai ia mencintai kebaikan untuk seudaranya seperti mencintainya untuk diri sendiri.”

Abu Amr bin Shalah berkata, Baca selebihnya »

Tempat Terlarang Untuk Menyembelih Binatang

 Penulis: Abu Abdillah Agus Hermawan

Banyak diantara mereka yang menyembelih untuk Alloh akan tetapi di tempat yang digunakan untuk menyembelih kepada selain Alloh seperti di kuburan ‘wali’, tempat pemujaan kesyirikan dengan alasan bahwa sembelihan ini untuk Alloh dan telah di ucapkan basmalah lalu bagaimana hukum hal ini? Bolehkah dilakukan?? Dalil mengenai hal ini yang telah disabdakan oleh Rosululloh Sholallohu ‘alaihi wa salam;

Ada seorang yang bernadzar akan menyembelih seekor unta di Buwanah (nama suatu tempat di sebelah selatan kota Mekkah sebelum Yalamlam, atau anak bukit sebelah Yanbu’) lalu orang itu bertanya kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Nabi pun balik bertanya, “Apakah di tempat itu pernah ada berhala jahiliyah yang disembah?” Para sahabat menjawab, “Tidak.” Beliau bertanya lagi, “Apakah di tempat itu pernah dilaksanakan salah satu perayaan hari raya mereka?” Mereka menjawab, “Tidak.” Maka Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Penuhilah nadzarmu itu. Akan tetapi tidak boleh memenuhi nadzar yang menyalahi hukum Alloh dan nadzar dalam perkara yang bukan milik seseorang.” (HR. Abu Dawud, dan isnadnya menurut persyaratan Bukhori dan Muslim. Dishohihkan oleh Syaikh Albani dalam Shohihul Jami)

Pertanyaan Nabi Sholallohu ‘alaihi wa salam tentang status dan keadaan tempat tersebut menunjukkan bahwa jika tempat tersebut adalah tempat berhala atau perayaan orang musyrik maka terlarang menyembelih untuk Alloh di situ. Baca selebihnya »

Benarkah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa salam Diciptakan dari Cahaya?

Sebagian ulama mengatakan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa salam dari cahaya. Mereka berdalil dengan hadits yang diriwayatkan dari Jabir, bahwa dia berkata “Aku berkata, “Wahai Rasullullah, beritahukanlah kepadaku tentang sesuatu yang pertama kali Allah Ta’ala ciptakan sebelum segala sesuatu?” Rasulullah bersabda, “Wahai Jabir, sesungguhnya Allah Ta’ala telah menciptakan sebelum segala sesuatu yang lain adalah cahaya Nabimu dari cahaya.”

Sesungguhnya orang-orang yang melampaui batas dan ahli bid’ah, mereka mengatakan bahwa Nabi diciptakna dari cahaya, dan dari cahaya Nabi shallallahu ‘alaihi wasalam, Allah menciptakan para nabi, surga dan neraka, ‘Arsy dan Kursi, dan lain-lain sebagainya.

Pernyataan itu adalah kebohongan dan kepalsuan yang jelas dan terang. Baca selebihnya »

Pahala Yang Berlipat Ganda

Oleh Yazid Abdul Qodir Jawas

“Sesungguhnya Allah telah menetapkan kebaikan-kebaikan dan kejelekan-kejelekan, kemudian Allah menjelaskan yang demikian. Barang siapa yang berniat baik dan ia tidak melakukannya, maka Allah menulis di sisiNya satu kebaikan yang sempurna. Dan jika ia berniat baik dan ia melakukannya, maka Allah akan menulisnya 10 kebaikan sampai 700 kali lipat hingga berlipat yang banyak. Dan jika ia berniat jelek dan ia tidak melakukannya (karena Allah), maka Allah akan menulis di sisiNya satu kebaikan. Dan jika ia berniat berbuat jelek dan ia melakukan perbuatan jelek itu, maka Allah menuliskannya satu kejelekan.” (HR. Bukhari Muslim) Hadits ke-37 dari hadits Arba’in An Nawawi

Berlipat gandanya amal tergantung pada:

Baca selebihnya »

Tuntutlah Duniamu…

اِعْمَلْ لِدُنْيَاكَ كَأَنَّكَ تَعِيْشُ أَبَدًا, وَاعْمَلْ لِآخِرَتِكَ كَأَنَّكَ تَمُوْتُ غَدًا

“Beramallah untuk duniamu seakan-akan engkau hidup akan selamanya dan beramallah untuk akhiratmu seakan-akan engkau akan mati besok”.

Ini bukanlah sabda Nabi -Shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam-, walaupun masyhur di lisan kebanyakan muballigh di zaman ini. Mereka menyangka bahwa ini adalah sabda beliau -Shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam-. Sangkaan seperti ini tidaklah muncul dari mereka, kecuali karena kebodohan mereka tentang hadits. Di samping itu, mereka hanya “mencuri dengar” dari kebanyakan manusia, tanpa melihat sisi keabsahannya.

Hadits ini diriwayatkan dua sahabat. Namun kedua hadits tersebut lemah, karena di dalamnya terdapat inqitho’ (keterputusan) antara rawi dari sahabat dengan sahabat Abdullah bin Amer. Satunya lagi, Cuma disebutkan oleh Al-Qurthubiy, tanpa sanad. Oleh karena itu, Syaikh Al-Albaniy men-dho’if-kan (melemahkan) hadits ini dalam Silsilah Al-Ahadits Adh-Dho’ifah (no. 8).

Sumber: almakassari.com

Halaman Berikutnya »