Semua orang yang mengaku muslim, jika ditanya siapa Tuhannya tentu akan menjawab, “Allah.” Umumnya, kebanyakan muslim beranggapan bahwa yang dimaksud Tuhan itu hanyalah sebatas Sang Pencipta, Penguasa, dan Pengatur alam semesta. Jika seperti itu, maka seseorang belum bisa disebut bertauhid secara benar, sebab tauhid seperti itu belum sempurna.

Wajib diketahui bahwa tauhid terdiri atas tiga macam. Adapun pembagiannya sebagai berikut :

  1. Tauhid rububiyah, yaitu mengesakan Allah Ta’ala dalam penciptaan, kekuasaan, dan pengaturan. Allah Tal’ala berfirman:
    “Allah pencipta segala sesuatu.” (Az Zumar: 62)
    “Mahasuci Allah yang di tangan-Nya segala kerajaan dan Dia lah Mahakuasa atas segala sesuatu.” (Al Mulk: 1)
    “Ketahuliah, menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah, Mahasuci Allah Tuhan Sernesta Alam.” (Al A’raf: 54)
  2. Tauhid uluhiyah, yaitu mengesakan Allah Ta’ala dalam beribadah, dengan kata lain agar manusia tidak menyekutukan dengan seorang pun, baik dengan menyembah atau mendekatkan diri sebagaimana ia menyembah dan mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala. Adapun di antara dalilnya adalah firman Allah Ta’ala:
    “Hai manusia, sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakanmu dan orang-orang yang sebelummu, agar kamu bertakwa. Dialah yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap, dan Dia menurunkan air (hujan) dari langit, lalu Dia menghasilkan dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai rezki untukmu; karena itu janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah, padahal kamu mengetahui.” (Al Baqarah: 21-22)
    Inilah jenis tauhid yang kebanyakan diluruskan oleh para rasul dari kaumnya. Sebagaimana firman Allah Ta’ala:
    “Dan sungguh Kami telah mengutus pada tiap-tiap umat seorang utusan (agar mereka menyeru), ‘Sembahlah Allah saja dan jauhilah thaghut itu.'” (An-Nahl : 36)
  3. Tauhid asma dan sifat, yaitu mengesakan AllahTa’ala sesuai dengan nama dan sifat yang Ia sandangkan sendiri kepada diri-Nya dalam Kitab-Nya atau melalui lisan Rasulullah , yaitu dengan menetapkan apa yang ditetapkan Allah Ta’ala dan meniadakan apa yang ditiadakan-Nya dengan tanpa tahrif (mengubah), ta’thil (menafikan), takyif (menanyakan bagaimana), juga tanpa tasybih (menyerupakannya dengan makhluk).

Untuk itu, andaikata seseorang yang bersaksi secara sempurna terhadap tauhid rububiyah dan asma dan sifat, namun ia pergi ke kuburan dan menyembah orang yang di dalam kubur atau ber-nadzar mempersembahkan sesaji untuknya sebagai bentuk pendekatan diri kepadanya, maka sesungguhnya dia telah syirik dan kafir.
Sebab ibadah menjadi tidak sah kecuali jika ditujukan hanya kepada Allah Ta’ala semata. Barangsiapa menyimpang dari tauhid uluhiyah, maka dia telah syirik dan kafir, meskipun mengakui tauhid rububiyah dan asma wa sifat.

Oleh karena itu firman-Nya ‘Alhamdu lillahi rabbil ‘alamiin’ mengandung pengukuhan ke-rububiyah-an Allah Ta’ala terhadap seluruh makhluk-Nya. Dan firman-Nya ‘Arrahmaanirrahiim-Maaliki yaumiddiin’ mengandung pengukuhan terhadap sifat-sifat-Nya yang Mahatinggi dan nama-nama-Nya Yang Mahamulia. sedangkan firman-Nya ‘Iyyaaka na’budu wa iyaaka nasta’iin’ mengandung pengukuhan ke-ubudiyah-an seluruh makhluk kepada-Nya dan ke-uluhiyah-an Allah Ta’ala atas mereka.

Walaupun terbagi menjadi 3 bagian, tauhid merupakan satu kesatuan dan punya hubungan yang sangat kuat satu sama lain. Sebab, tauhid uluhiyah mengandung tauhid rububiyah dan tauhid rububiyah mengharuskan adanya tauhid uluhiyah. Demikian pula tauhid asma dan sifat mengandung tauhid rububiyah, karena sifat Allah Ta’ala itu ada yang berupa sifat dzat (diri) dan ada yang berupa sifat perbuatan.

Oleh sebab itu, jika pembaca sekalian masih seperti kebanyakan muslim yang sebatas mentauhidkan Allah Ta’ala sebagai pencipta saja, sudah saatnya mengkaji kembali dan memahami apa-apa yang terlupa/ketinggalan dari tauhid. Sebab tauhid merupakan modal utama keselamatan seorang hamba.

Di mabil dari: majalah-nikah.com