Berikut pemaknaan yang batil dari kalimat tauhid ini yang banyak tersebar dan sering didengang-dengungkan di tengah-tengah kaum muslimin saat ini :

  • Tidak ada yang ada kecuali Allah. (Laa Mawjuda Illallah)

Makna ini adalah makna yang paling batil dari semua makna-makna batil yang ada, penafsiran ini disebarkan oleh orang-orang tashawwuf yang berpemahaman wihdatul wujud (Allah menyatu dengan makhlukNya) wal’iy adzu billah.

  • Tidak ada yang disembah yang ada kecuali Allah. (Laa ma’buda mawjudun illallah)

Makna dan tafsiran ini umumnya dikemukakan oleh sebagian ahli bahasa yang tidak memahami secara benar makna Laa Ilaaha Illallah. Mereka mendahulukan sisi bahasa semata-mata tanpa memperdulikan sisi syariatnya. Makna ini muncul karena mereka menyatakan bahwa khobar yang terbuang adalah kata mawjudun atau kainun yang berarti “ada”, sebagaimana yang biasa mereka sebutkan ketika menyebutkan taqdir (makna penyempurna) dari suatu kalimat, padahal takdir yang benar adalah haqqun atau bihaqqin sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya. Kemudian dari sisiyang lain, tafsiran ini menyelisihi kenyataan karena manusia di dunia ini –baik kaum musyrikin di zaman Nabi maupun kaum musyrikin zaman sekarang- ada yang menyembah sembahan lain selain Allah seperti dukun, keris, jimat, kuburan, sapi, jin, patung-patung dan lain-lainnya tidak terhitung, maka tidaklah benar kalau dikatakan yang disembah manusia hanyalah Allah saja. Kemudian dari sisi yang ketiga mengharuskan bahwa semua sembahan yang ada di dunia ini –baik yang berhak disembah maupun yang batil- semuanya adalah Allah dan cukuplah ini sebagai suatu kesesatan yang nyata.

  • Tidak ada Tuhan selain Allah (Laa Robba illallah)

Ini juga adalah penafsiran yang batil dan di bawahnya ada beberapa penafsiran yang batil yang semuanya kembali kepada makna ini, yaitu :

  1. Tidak ada pencipta selain Allah (Laa Kholiqa illallah)
  2. Tidak ada yang menguasai atau memberi rezki kecuali Allah (Laa malika aw roziqa illallah)
  3. Tidak ada yang sanggup mengadakan yang baru kecuali Allah (Laa qodira ’alal ikhtiro’ illallah) dan ini adalah penafsiran para ahli kalam dan filsafat.

Ketiga makna ini dan makna-makna yang semisalnya kita katakan bisa kembali kepada penafsiran tidak ada Tuhan selain Allah (Laa Robba illallah) , karena kata robbun (Tuhan) secara bahasa Arab mencakup 3 makna, yaitu Al-Kholiq (pencipta), Al-Malik (penguasa) dan Al-Mudabbir (pengatur) maka siapa yang meyakini bahwa Allah adalah Tuhannya berarti dia meyakini bahwa hanya Allah yang menciptakan dia, hanya Allah yang menguasai dia dan hanya Allah yang mengatur dirinya beserta seluruh makhluk.

Setelah ini dipahami, maka ketahuilah bahwa makna kalimat ini ’Tidak ada Tuhan selain Allah’ adalah benar, hanya saja yang bermasalah dan yang merupakan kebatilan kalau kalimat ini dijadikan sebagai makna kalimat tauhid laa ilaha illallah. Karena kalau kalimat tauhid ditafsirkan dengan penafsiran seperti ini maka berarti siapa saja yang telah mengakui hanya Allah sebagai Robb (Tuhan) –yakni sebagai pencipta, penguasa dan pengatur- maka berarti dia telah berlaa ilaha illallah atau telah masuk Islam, padahal orang-orang musyrikin dan ahlul kitab (Yahudi dan Nashrani) bahkan seluruh makhluk -kecuali beberapa kelompok kecil dari manusia- dari dahulu sampai sekarang semuanya mengakui bahwa ’Tidak ada Tuhan selain Allah’.Firman Allah Ta’ala:

Surah Yunus ayat 31 : قُلْ مَنْ يَرْزُقُكُمْ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ أَمَّنْ يَمْلِكُ السَّمْعَ وَالْأَبْصَارَ وَمَنْ يُخْرِجُ الْحَيَّ مِنَ الْمَيِّتِ وَيُخْرِجُ الْمَيِّتَ مِنَ الْحَيِّ وَمَنْ يُدَبِّرُ الْأَمْرَ فَسَيَقُولُونَ اللَّهُ فَقُلْ أَفَلَا تَتَّقُونَ

“Katakanlah: “Siapakah yang memberi rezki kepadamu dari langit dan bumi, atau siapakah yang kuasa (menciptakan) pendengaran dan penglihatan, dan siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup dan siapakah yang mengatur segala urusan?” Maka mereka akan menjawab: “Allah”. Maka katakanlah: “Mengapa kamu tidak bertakwa (kepada-Nya)?”.

Mereka tidak pernah ada yang mengatakan apalagi meyakini bahwa ada pencipta selain Allah atau ada yang menguasai dan mengatur alam semesta selain Allah, tidak sama sekali akan tetapi bersamaan dengan semua keyakinan di atas –yakni keyakinan hanya Allah sebagai pencipta, penguasa dan pengatur alam semesta tanpa selainnya atau dengan kalimat lebih ringkas keyakinan bahwa tidak ada Tuhan selain Allah-, mereka tetap dikatakan musyrik dan kafir, tetap diperangi oleh Rasulullah Shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam dan tetap diperintahkan untuk mengucapkan Laa ilaha illalah, menunjukkan bukan makna ini yang diinginkan dari kalimat tauhid yang mulia ini. Oleh karena itulah para Rasul tidak diutus untuk menyuruh mereka mengakui Allah sebagai Tuhan akan tetapi untuk menyerukan kepada mereka agar mereka hanya menyembah kepada Allah dan meninggalkan semua sembahan selainNya.

Wallahu a’lam…………

Dari: almakasari.com