Asuransi ini dibangun dengan tujuan membantu dan meringankan pihak-pihak yang membutuhkan atau yang terkena musibah. Gambarannya, sejumlah anggota menyerahkan saham dalam bentuk uang yang disetorkan tiap pekan atau bulan dengan nominal yang tidak ditentukan nilainya, kepada yayasan/lembaga yang menangani musibah, bencana dan orang yang membutuhkan.

Biasanya, biasanya saham akan dihentikan untuk sementara waktu bila jumlah uang dirasa sudah cukup dan tidak terjadi bencana atau musibah yang menyebabkan kas menipis atau membutuhkan suntikan dana. Saham-saham dalam bentuk uang itu sendiri tidak dikembangkan dalam bentuk infestasi. Dan asuransi ini murni dibangun atas dasar kesadaran dan saling membantu, bukan paksaan.

Contoh di lapangan yang disebutkan oleh syaikhuna Abdurrahman Al-‘Adni hafizhahullah adalah asuransi gotong royong pada perkumpulan angkutan kota atau bis (dimana kendaraan-kendaraan itu milik pribadi, bukan milik perusahaan). Caranya masing-masing anggota menyetorkan sejumlah nominal tak tentu, setiap pekan/bulan, kepada seseorang yang mereka tunjuk untuk membantu anggota mereka yang mengalami kecelakaan atau terkena musibah.

Mengenai asuransi jenis ini, para ulama anggota Al-Lajnah Ad-Da’imah dan anggota Kibarul Ulama Kerajaan Saudi Arabia telah melakukan pertemuan ke-10 di kota Riyadh pada Rabi’ul Awwal 1397 H. Hasilnya, mereka sepakat bahwa ta’awun ini diperbolehkan dan bisa menjadi ganti dari asuransi tijarah (bisnis) yang diharamkan, dengan beberapa alasan berikut:

1.      Asuransi ta’awun termasuk akad tolong menolong untuk membantu pihak yan terkena musibah, tidak bertujuan bisnis atau mengeruk keuntungan dari harta orang lain. Tujuannya hanyalah membagi beban musibah tersebut diantara mereka dan bergotong royong meringankannya.

2.      Asuransi ta’awun ini terlepas dari 2 jenis riba (fadl dan nasi’ah). Akad para pemberi saham tidak termasuk akad riba serta tidak memanfaatkan kas yang ada untuk muamalah-muamalah riba.

3.      Tidak mengapa bila pihak yang membari saham tidak mengetahui secar pasti jumlah nominal yang akan diberikan kepadanya bila ia terkena musibah. Sebab mereka semua adalah donator (angota), tidak ada pertaruhan, penipuan, atau perjudian.

Uraian panjang tentang masalah ini dapat dilihat dalam Fatwa Al-Lajnah Ad-Da’imah (15/287-292)

Sementara Syaikhuna Abdurrahman Al-‘Adni menyayangkan 2 hal yang menangani suransi ini:

          Menaruh uang tersebut di bank-bank riba tanpa ada keadaan yang darurat.

          Memaksa para anggota untuk menyetorkan sham mereka dengan nominal tetap/ditentukan.

Wallahu a’lam. (Syarhul Buyu’, hal. 39)