Gambaran system asuransi ini adalah pihak nasabah membayar nominal (premi) tertentu pada perusahaan/lembaga asuransi setiap bulan atau tahun, atau setiap order, atau sesuai kesepakatan bersama, dengan ketentuan bila terjadi kerusakan atau musibah maka pihak lembaga asuransi menanggung seluruh biaya ganti rugi. Bila tidak terjadi sesuatu maka setoran terus berjalan dan menjadi milik lembaga asuransi. Ringkasnya, orang yang terbelit asuransi ini akan menghadapi pertaruhan dengan dua kemungkinan: untung atau rugi.

Untuk asuransi jenis ini, para ulama masa kini berikut lembaga pengkajian fikih internasional semacam Rabithah ‘Alam Islami, Hai’ah Kibaruk Ulama, dan Al-Lajnah Ad-Da’imah kerajaan Saudi Arabia, serta lembaga-lembaga keislaman yang lainnya baik di dunia Arab maupun internasional, telah bersepakat menyatakan keharaman asuransi jenis ini. Kecuali beberapa gelintir saja yang membolehkan dengan alasan harta benda.

Berikut ini beberapa argumentasi yang disebutkan aleh Hai’ah Kibarul Ulama  pada ketetapan mereka no. 55 tanggal 4/4/1397 H, tentang pengharaman asuransi bisnis diatas:

1.      Asuransi bisnis termasuk pertukaran harta yang berspekulasi tinggi dengan tingkat pertaruhan yang sangat parah. Sebab pihak nasabah tidak tahu berapa nominal yang bakal diterima. Bisa jadi dia baru menyetor sekali atau dua kali, lalu terjadi musibah sehingga dia menerima nominal (nilai pertanggungan) yang sangat besar sesuai kejadiannya. Namun bisa juga sebaliknya. Padahal Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa salam telah melarang sistem jual beli gharar (yang mengandung unsur pertaruhan).

2.      Asuransi bisnis termasuk salah satu jenis perjudian, dan termasuk keumuman firman Allah Ta’ala:

“Hai orang-orang yang beriman, Sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah adalah Termasuk perbuatan syaitan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan.” (Al Ma’idah:90)

3.      Asuransi ini mengandung riba fadl dan nasi’ah. Bila lembaga asuransi memberikan kepada tertanggung atau ahli waris yang bersangkutan melebihi nominal yang disetorkan, maka ini riba fadl. Tapi bila lembaga asuransi menyerahkan setelah waktu berselang lama dari akad, maka ia juga terjatuh dalam riba nasi’ah.

Namun bila perusahaan tersebut menyerahkan nominal yang sama dengan jumlah setoran nasabah, tetapi setalah selang waktu yang lama, maka ia terjatuh dalam riba nasi’ah saja.

4.      Asuransi ini termasuk jenis pegadaian/perlombaan yang diharamkan, karena mengandung pertaruhan, perjudian, dan penuh spekulasi. Pihak tertanggung memasang pertaruhannya dengan setoran-setoran yang intensif, sedangkan pihak lembaga asuransi pertaruhannya dengan menyiapkan ganti rugi. Siapa yang beruntung maka dia yang mengambil pertaruhan pihak lain.

5.      Asuransi in imengandung upaya memakan harta orang lain dengan cara kebathilan. Allah Ta’ala berfirman:

“Hai orang-orang beriman, janganlah kalian memakan harta sesame kalian dengan cara yang bathil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku suka sama suka diantara kalian.”  (An Nisaa’: 29)