Secara panduan manual syariat birth control (KB) itu berseberangan dengan ajaran Islam, pada dua titik rawannya. Pertama, pada prinsip pembatasan anak. Kalau Islam menganjurkan memperbanyak keturunan, KB justru membatasinya. Kedua, KB bermisi menciptakan keluarga berencana berdasarkan pendekatan semakin sedikit anak, semakin baik untuk pembinaan dan pendidikan. Sementara Islam justru berkonsep sebaliknya, semakin banyak anak semakin banyak asset pahala bagi orang tuanya, semakin banyak generasi Islam, dan semakin banyak kesempatan menyebarkan ajaran Islam. Balutan konsep Islam berada dalam konsep optimisme, tekad yan kuat dan hati yang tulus. Sementara KB justru berada dalam bingkai pesimisme, tekada yang memudar dan hati yang sudah ternodai cinta dunia.

Sehingga apapun alasannya, hukum asal dari KB adalah dilarang dan berseberangan dengan ajaran Islam. Diperbolehkannya KB hanya dalam kondisi darurat. Alasan menjalankan KB demi kebaikan pendidikan anak sama dengan alasan memakan babi demi kesehatan tubuh diluar keadaan darurat. Alasan itu terlalu sederhana untuk dijadikan sebagai sebuah kasus darurat.

Ini seperti kasus, semakin banyak ilmu, semakin besar tanggung jawab. Tapi sangat picik jika kita memilih lebih baik sedikit ilmu, biar sedikit tanggung jawab. Ilmu adalah anugerah, seperti halnya anak. Seyogyanya setiap muslim memiliki semangat baja dan hasrat yang tulus terkait dengan pendidikan anak. Kalau konsepnya dimulai dari tanggung jawab dan pengabdian kepada Allah, maka saat anak lahir, yang terbetik dalam jiwa seseorang nuslimah adalah munculnya sebuah tanggung jawab besar, amanah bahkan juga inadah dalam dimensi maknanya yang diperluas, plus kesempatan untuk mengembangkan dakwah dan regenerasi umat Islam yang shalih dan shalihah. Tapi kalau konsepnya berkutat pada nuansa kapitalisme, bahwa lahirnya anak adalah beban financial baru, yang dengan sendirinya membutuhkan modal baru, dan sejenisnya, maka persepsi materialistis itu menyeruak sebagai persoalan.

Orang bisa berkata, “Saya tidak mengkhawatirkan kemiskinan, tapi pendidikan anak.” Itu setali tiga uang, alias sama saja. Karena baik soal nafkah, ataupun pendidikan, tidak berlari jauh dari semangat bekerja dan uang. Orang yang mengkhawatirkan pendidikan anak, setidaknya memiliki dua bentuk kekhawatiran. Khawatir kalau anaknya tidak terdidik secara baik, ini soal kerja keras. Kedua khawatir kalau anaknya tidak mendapat pendidikan yang layak, ini soal uang. Jadi persoalannya jadi lebih kompleks dari sekedar khawatir akan kemiskinan. Yang artinya lebih mencelat jauh dari konsep dan misi Islam yang sangat menghargai anak dan regenerasi.

Logikanya bisa disederhanakan sebagai berikut. Takut bekerja dan mengurus anak dan istri tak usah menikah. Takut tidak mampu mendidik anak tak usah punya anak. Takut mengemban banyak kewajiban dan menjauhi larangan, tak usah beragama. Takut tak mampu menjadi anak yang berbakti tak usah punya orang tua. Takut harus selalu menjaga adab, etika dan kewajiban, tak usah menjadi manusia. Kalau logika ini diteruskan akan melahirkan keanehan dan keanehan yang semakin tidak kita toleransi lagi. Karena intinya ini logika untuk lari dari kewajiban dan tanggung jawab.

Orang yang hanya ingin bersedekah kalau sudah kaya raya, pada hakikatnya adalah pemimpi belaka. Budaya sedekah harus dimulai sejak kita hanya mempunyai sedikit harta. Demikian juga orang yang ingin menuntut ilmu kalau waktu sudah senggang. Itu sama dengan konsep, ingin menjadi orang tua dan pengasuh serta pendidik yang baik, kalau hanya menpunyai 2 orang anak saja. Itu melahirkan 2 makna: ia tidak akan siap menjadi pendidik yang baik kalau ternyata –dengan takdir Allah- ia akhirnya memiliki lebih dari 2 anak. Kedua, itu maknanya, si calon orang tua tersebut tidak memiliki jiwa yang teguh. Karena keteguhan sikap itu dapat dilihat dari pembiasaan diri dan pelatihan.

Intinya, melaksanakan KB dengan alasan takut tak mampu mendidik anak lebih didasari oleh sejenis paranoid. Rasa takut dan khawatir yang wajar, pasti hanya akan melahirkan sikap hati-hati, lebih bekerja dengan giat dan lebih bersemangat. Takut jatuh dari sepeda motor dalam batas normal misalnya, itu wajar karena akan membuat seseorang lebih berhati-hati. Tapi kalau sampai membawa kesimpulan tidak mau mengendarai sepeda motor, itu paranoid.

Terlebih-lebih untuk menghadapi persoalan KB yang jelas-jelas hanya diperbolehkan dalam kondisi yang sangat darurat, dan itu pun masih dalam kontroversi. Rasa takut seperti itu, harus dilenyapkan. Tegakkan kepala, busungkan dada, jadilah orang yang bersemangat baja dan berpemikiran gigih dan ulet, karena dengan ini bias-bioas keberhasilan akan menjadi nyata. Kalau tidak kita akan menjadi pecandu mimpi-mimpi indah saja……

Dari: majalah-Nikah edisi 01 vol. 06