Semangat Ahmadinejad, presiden Iran, dalam menghasung dunia Islam untuk menghadapi Israel dan AS begitu menggebu. Dengan berani, ia menyatakan bahwa Israel hendaknya dihapus dari peta dunia. Program nuklirnya yang jalan terus di tengah ancaman AS menambah simpati. Sempat beredar SMS untuk mendukung Ahmadinejad di negeri ini kala ia melawat berpidato di kampus-kampus.

Belum sampai 30 tahun yang lalu, dunia Islam juga merasakan hembusan semangat dari Iran. Revolusi Iran ala Khomeini yang menggulingkan Shah Reza Pahlevi disambut gempita umat Islam.

Saat ini, hal itu hampir terjadi lagi dengan sepak terjang Ahmadinejad. Umat Islam menganggap semangat Iran sebagai semangat Islam. Padahal jauh sekali antara Islam dan mereka. Ini tak lain karena mereka beragama Syi’ah, sebuah agama yang berbeda dengan Islam.

Agama negara Iran saat ini adalah Syi’ah Itsna Asy’ariyah,  hal ini tercantum dalam konstitusi yang mereka pakai sejak Revolusi Khomeini hingga saat ini, “Agama resmi Negara adalah madzhab Itsna Asy’ariyah. Dan pasal ini tidak boleh diubah.”

Syiah Itsna Asy’ariyah

Syi’ah Iran disebut Itsna Asy’ariyah karena mereka mengaku mempunyai imam sebanyak 12 orang dari kalangan ahlul bait. Karena itu mereka juga disebut Syi’ah 12 Imam atau Syi’ah Imamiyah. Imam mereka yang terakhir, Muhammad Mahdi bin Muhammad Al-Askari, menurut mereka, menghilang untuk sementara waktu pada usia 5 tahun ke dalam sebuah goa di Sammara (sebuah kota di Irak dekat sungai Tigris, arah utara dari Baghdad), dan akan kembali pada akhir dunia sebagai Imam Mahdi.

Syi’ah saat ini juga disebut sebagai Rafidhah. Ada beberapa pendapat sebab penamaan ini.

Ada yang mengatakan mereka dinamakan Rafidhah, karena mereka menolak Zaid bin Ali bin Husein bin Ali bin Abi Thalib yang mengatakan bahwa Abu Bakar dan Umar adalah sahabat kakeknya (maksudnya adalah sahabat Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam-red), dan bahwa Zaid setia kepada keduanya. Ada yang mengatakan mereka dinamakan dengan Rafidhah, karena mereka menolak keimaman (kepemimpinan) Abu Bakar dan Umar. Dikatakan juga, mereka disebut dengan Rafidhah karena mereka menolak agama.

Sejarah Munculnya

Paham Syi’ah berawal dari Abdullah ibn Saba’. Ia adalah seorang Yahudi dari Yaman yang masuk Islam pada masa Khalifah Utsman bin Affan. Semasa Yahudi, ia mendapatkan cerita bahwa Yusya’ bin Nun mendapatkan wasiat kepemimpinan dari Nabi Musa. Karena itu, ia pun mengatakan, dalam Islam, Ali bin Abi Thalib juga mendapatkan wasiat kepemimpinan dari Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam untuk menggantikan beliau shallallahu alaihi wa sallam. Kemudian ia pun mengecam khalifah sebelum Ali; Abu Bakar, Umar, dan Utsman, serta beberapa sahabat yang memihak mereka.

Perbuatannya itu ia katakan berdasar perintah Ali. Terhadap kedustaan ini, Abdullah bin Saba’ dihadapkan kepada Ali. Ali menjatuhkan hukuman mati atas Ibn Saba’. Namun karena ada yang menasehati Ali agar orang itu tidak dibunuh, maka Ibn Saba’ pun dibuang ke Madain, ibukota Iran waktu itu.

Saat Ibn Saba’ tiba di Madain, terdengarlah berita kematian Ali. Ibn Saba’ menolak wafatnya Ali, “Aku sendiri menyatakan ia tidak tewas. Ali tidak akan wafat. Tidak akan terbunuh sebelum ia dapat menguasai seluruh permukaan bumi ini.”

Mulailah Ibn Saba’ merajalela. Ia mengatakan Ali tidak terbunuh karena pada diri Ali terdapat unsur ketuhanan. Menurutnya, Ali sering menjelma dalam bentuk awan. Guruh adalah suaranya, petir adalah cemetinya. Ibn Saba’ pun mempunyai pengikut yang terus mengembangkan pahamnya hingga terkenal menjadi Syi’ah.

Imamah

Imamah atau kepemimpinan Islam merupakan doktrin utama Syi’ah. Ini adalah prinsip utama mereka sejak masa Ibn Saba’. Syi’ah Imamiyah berkeyakinan bahwa Allah telah memerintahkan kepada Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam untuk menunjuk Ali dan mengangkatnya sebagai pemimpin umat manusia setelah beliau shallallahu alaihi wa sallam. Untuk mendukung keyakinan mereka, mereka mengarang cerita palsu bahwa sepulang dari Haji Wada’, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam mewasiatkan kepemimpinan Islam kepada Ali di tempat yang bernama Ghadir Kum. Mereka kemudian meyakini setiap imam mereka pun mewasiatkan kepemimpinan pada imam berikutnya.

Seorang ulama Syi’ah, Muhammmad Al-Husein Ali Kasyiful Ghitha’ dalam bukunya, Ashlusy-Syi’ah wa Ushuuluha berkata, “Arti Imamah, telah saya jelaskan, bahwa hal ini (imamah) merupakan dasar utama yang hanya dimiliki oleh Syi’ah Imamiyah dan menjadikan Imamiyah berbeda dari aliran-aliran dalam Islam lainnya.”

Berkaitan dengan masalah imamah ini pula orang Syi’ah menuduh Al-Quran yang ada sekarang ini telah diubah. Mereka menganggap ayat-ayat yang berhubungan dengan kepemimpinan Ali telah dihapus. Mereka sendiri mengaku punya Mushaf Fathimah yang tebalnya 3 kali Al-Quran.

 Aqidah Syi’ah tentang Imam Mereka

Khomeini dalam bukunya, Al-Hukumah Al-Islamiyah, berkata, “Setiap imam memiliki martabat yang tinggi dan terpuji. Kekuasaannya meliputi molekul dan atom di alam ini… Jangan kita bayangkan para imam itu bisa lupa atau lalai… Sudah menjadi keyakinan kita bahwa para imam itu menempati martabat yang tidak dijangkau oleh para malaikat yang didekatkan ataupun para nabi yang diutus.”

Ibrahim Al-Amili, ulama Syi’ah zaman ini, bersyair tentang Ali, “Abu Hasan, engkaulah hakikat Tuhan (yang diibadati)/dan alamat kekuasaan-Nya yang tinggi/Engkaulah yang menguasai ilmu ghaib,/maka mungkinkah tersembunyi bagimu akan sesuatu yang hasul./Engkaulah yang mengendalikan poros alam,/

Bagimu para ulamanya yang tinggi./Bagimu amar (urusan) bila engkau menghendaki, kau menghidupkan besok,/bila engkau menghendaki kau cabut ubun-ubun.”

Dengan keyakinan bahwa imam mereka lebih tinggi dari malaikat dan para nabi serta mempunyai unsur ketuhanan, jelaslah aqidah mereka adalah aqidah yang syirik dan kufur.

 Pelacuran Atas Nama Nikah

Syi’ah juga mempunyai nikah mut’ah alias kawin kontrak. Nikah mut’ah dilakukan antara sepasang laki-laki dan perempuan untuk beberapa waktu tertentu dengan imbalan tertentu dari pihak laki-laki kepada si perempuan tanpa wali, tanpa talak, tanpa waris-mewarisi dan tidak terbatas pada jumlah perempuannya.

Syi’ah mengatakan bahwa mut’ah boleh dilakukan terhadap wanita Nasrani, Yahudi, dan Majusi. Ulama Syi’ah, Ath-Thusi, dalam Tahdzibul Ahkam, berkata, “Boleh dengan wanita pelacur, karena itu dapat mencegah dari berbuat dosa.” Khomeini dalam Tahrirul Washilah berkata, mut’ah boleh dilakukan dengan wanita pezina.

Tak kalah menjijikkan, Syi’ah membolehkan menyetubuhi wanita lewat duburnya. Tercantum dalam kitab Syi’ah, Al-Istibshoor, dari Ali bin Al-Hakam ia berkata, “Saya telah mendengar Shofwan berkata, ‘Saya telah berkata kepada Al-Ridha, ‘Sesungguhnya seorang laki-laki dari budak-budakmu memerintahkan saya untuk menanyakan kepadamu akan suatu masalah, maka dia takut dan malu kepadamu untuk menanyakannya.’ Ia berkata, ‘Apa itu?’ Ia berkata, ‘Apakah boleh bagi laki-laki untuk menyetubuhi wanita (istrinya) di lubang anusnya?’ Ia menjawab, ‘Ya, hal itu boleh baginya.’”

 Pandangan Syi’ah terhadap Selainnya

Syi’ah memandang orang selain Syi’ah adalah kafir. Kamil Sulaiman dalam Kitabu Al-Khalash fi Zhilli Al-Qaim Al-Mahdi berkata, “Siapa yang meyakini para imam dua belas adalah orang beriman, dan siapa yang mengingkari mereka adalah orang kafir.”

Yusuf Al-Bahrani, ulama Syiah abad XVII, berkata, “Tidak ada beda sama sekali antara orang yang kafir kepada Allah dan Rasul-Nya dan kafir terhadap para imam.”

Seorang ulama Pakistan, Syaikh Abdul Qadir Azad pernah mendatangi undangan Iran dalam perayaan 3 tahun revolusi Iran. Ia bercerita, “Pada saat itu kami menyaksikan poster-poster besar terpampang di dinding-dinding Hotel Hilton Teheran, dengan tulisan ‘Kita akan membebaskan Ka’bah, Baitul Maqdis, dan Palestina dari belenggu kaum kuffar.’” Sudah jelas siapa yang saat ini menguasai wilayah di mana Ka’bah berdiri.

 Taqiyah

Lalu mengapa mereka seakan-akan sama dengan umat Islam? Ini tak lain karena mereka mempunyai paham taqiyah.

Taqiyah didefinisikan oleh salah seorang ulama mereka, Muhammad Jawaad Mughniyah, sebagai, “Taqiyah yaitu kamu mengatakan atau melakukan (sesuatu), berlainan dengan apa yang kamu yakini; untuk menolak bahaya dari dirimu atau hartamu atau untuk menjaga kehormatanmu.”

Al-Kulaini menukilkan di Ushul al-Kafi, kitab Syi’ah, “Berkata Abu Abdillah, ‘Wahai Abu Umar,  sesungguhnya sembilan per sepuluh (sembilan puluh persen) agama ini terletak pada taqiyah, dan tidak ada agama bagi orang yang tidak melakukan taqiyah.’”

Maka orang Syi’ah memandang taqiyah adalah wajib, tidak akan berdiri mazhab mereka kecuali dengan taqiyah. Mereka selalu melaksanakan taqiyah, terlebih-lebih, bila kondisi yang sulit telah mengepung mereka. Jadi tak heran jika saat ini mereka tampak bersama umat Islam dan tak mengusik umat Islam. Jika kesempatan telah terbuka bagi mereka, tentu yang terjadi adalah lain.

Di Indonesia, terdapat pula orang atau lembaga yang cenderung kepada agama Syi’ah. Penerbit Mizan misalnya, beserta anak perusahaannya, adalah penerbit yang intens menerbitkan buku-buku Syi’ah. Ada juga Pesantren YAPI yang juru dakwahnya tersebar di hampir setiap kota. Saat ini ada pula IJABI atau Ikatan Jama’ah Ahlul Bait yang juga tersebar perwakilannya di kota-kota besar.

Dengan mengetahui akidah, pemikiran, dan syariah Syi’ah wajar jika kita emoh dengan paham seperti itu. Di Jakarta pernah diadakan seminar nasional tentang Syi’ah yang menghasilkan usulan kepada pihak pemerintah untuk mewaspadai dan memberi gelar paham ini sebagai paham terlarang. Semoga saja sepak terjang Ahmadinejad tidak membuat kita lupa tentang akidah bobrok Syi’ah yang berbeda dengan Islam.(Abu Ukasyah)