Banyak wanita yang terkena bujuk rayu setan lewat seorang lelaki. Mereka merayu sedikit demi sedikit sehingga sang wanita mau untuk melakukan hal yang seharusnya dilakukan oleh suami istri. Pada akhrnya, penyesalan selalu datang terlambat. Mahkota keperawanan seorang wanita yang seharusnya selalu dijaga sampai mereka mendapat lelaki yang sah dalam ikatan pernikahan hilang dalam kenikmatan sesaat. Bahkan dalam rahimnya telah terisi oleh anak zina yang tidak berdosa. Dan karena tidak mau menanggung malu dikarenakan perutnya yang semakin membuncit, tanpa resa takut mereka pada Sang Pencipta, mereka menggugurkannya.Na’udzubillah! Ibarat sebuah pepatah “sudah jatuh tertimpa tangga” sudah melakukan dasa alih-alih bertaubat dengan sebenar-benarnya taubat malah berbuat dosa yang lebih besar dengan membunuh anak yang tidak berdosa dalam rahim.

Menurut sebagian para imam, wajib membayar kaffarah (tebusan), yatu dengan memerdekakan seorang budak yang beriman dan jika tidak mendapatkannya maka hendaknya ia puasa dua bulan berturut-turut. Bahkan oleh sebagian ulama perbuatan aborsi ini dinamakan pembunuhan kecil.

Syaikh Muhammad bin Ibrahim berkata dalam Majmu’ Fatawa-nya 11/151, “dapun usaha untuk menggugurkan kandungan adalah tidak boleh salama jelas bayi dalam kandungan itu mati, akan tetapi jika bayi dalam kandungan itu jelas mati maka boleh melakukan pegguguran.”

Kumpulan ulama-ulam besar Kerajaan Saudi Arabia atau yang terkenal dengan Majelis Kibarul Ulama (MUI-nya Kerajaan Saudi Arabia) no. 140 tanggal 20 Jumadil Akhir 1407 telah menetapkan masalah aborsi sebagai berikut:

  1. Tdak boleh melakukan aborsi dengan jalan apapun kecuali dengan cara yang baik yang dibenarkan oleh syar’i  itu pun dalam batas yang sangat sempit.
  2. Jika kandungan itu masih dalam putaran pertama (40 hari) lalu ia melakukan pengguguran pada masa ini karena khawawtir mengalami kesulitan mendidik anak, atau khawatir tidak bisa menanggung beban hidup atau dengan alas an mencukupkan dengan beberapa anak saja, maka semuanya itu tidak dibenarkan oleh syariat.
  3. Tidak boleh melakukan aborsi, jika kandungan telah berbentuk ‘alaqah (segumpal darah) atau mudghah (segumpal daging) sampai ada keputusan dari tim dokter yang terpercaya bahwa melanjutkan kehamilan akan membahayakan keselamatan ibunya. Jika demikian, maka diperbolehkan melakukan pengguguran. Setelah melakukan berbagai upaya untuk menghindarai bahaya bagi sang ibu dilakukan (dan tidak ada jalan lain selain aborsi itu).
  4. Setelah putaran yang ketiga, yaitu setelah usia kandungan genap berusia 40 hari maka tidak halal melakukan pengguguran sehingga ada pernyataan dari dokter spesialis yang terpercaya, jika janin itu dibiarkan tetap dalam perut ibu akan menyebabkan kematiannya. Hal itu diperbolehkan setelah segala macam usaha untuk menjaga kehidupan janin dilakukan. Ini hanya untuk rukhshah (keringanan/kebolehan) yang bersyarat karena menghadapi dua bahaya, sehingga harus mengambil jalan yang lebih maslahat.

Disebutkan pula dalam  Risalah Fiddima’ith-Thabi’iyah lin Nisa’I  oleh  syeikh Muhammad bin Utsaimin. Sesungguhnya jika pengguguran kandungan itu untuk melenyapkan keberadaannya, sementara ruh telah ditiupkan pad bayi maka hal itu haram tanpa keraguan, karena telah membunuh jiwa tanpa alasan yang benar.

Imam Ibnu Jauzi menyebutkan dalam kitab  Ahkaamun Nisa’  hal. 108-109, “Biasanya yang diinginkan seseorang dalam menikah adalah untuk mendapatkan anak, tetapi tidak setiap air itu menjadi seorang anak. Apabila air tersebut telah berbentuk, berarti tercapailah maksud pernikahan.” Maka sengaja melakukan aborsi adalah menyelisihi maksud dari hikmah nikah.adapun pengguguran di awal-awal mengandung saja sebelum ruh ditiupkan adalah termesuk dosa besar, hanya saja dosanya lebih kecil dibandingkan dengan menggugurkan bayi yang telah ditiupkan ruh. Maka kesengajaan menggugurkan bayi yang telah ditiupkan ruh itu berarti sama dengan membunuh seorang mukmin, Allah Ta’ala berfirman:

“Apabila bayi-bayi perempuan yang dikubur hidup ditanya, karena dosa apakah ia dibunuh?” (At-Takwir: 8-9)

 

Sumber: majalah-nikah no. 01 vol. 06