Kisah ini berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dari Abu Hurairah, bahwa beliau bersabda,

“Sesungguhnya matahari itu tidak pernah tertahan dan terbenam hanya karena seorang manusia, kecuali untuk Yusya. Yakni pada malam-malam dia berjalan di Baitul Maqdis (untuk jihad).” (Riwayat Ahmad)

Setelah meninggalnya Nabi Musa, Nabi Yusya bin Nun kemudian membawa Bani Israil keluar dari padang pasir. Mereka semua berjalan tanpa lelah hingga menyeberangi sungai Yordania dan akhirnya sampai di sebuah kota yang bernama Jerica. Yaitu kota yang dikelilingi pagar dan memiliki gerbang yang sangat kuat. Bangunan di dalamnya juga sangat tinggi-tinggi serta berpenduduk sangat padat. Nabi Yusya beserta kaumnya mengepung kota tersebut hingga 6 bulan lamanya. Beliau dan kaumnya sangat ingin menyerbu ke dalam. Namun sebelumnya Nabi Yusya berkata kepada Bani Israil, “Tidak boleh ikut bersamaku dalam perang ini seorang lelaki yang telah berkumpul dengan istrinya dan dari itu dia mengharapkan anak (tapi belum mendapatkan). Pun orang yang telah membangun rumah tapi atapnya belum selesai tidak boleh ikut bersamaku. Juga orang yang telah membeli kambing dan unta bunting yang dia tunggu kelahiran anaknya.”

Setelah berkata demikian, kemudian diiringi dengan takbir dan suara terompet, beliau bersama kaumnya menyerbu ke arah pagar pembatas kota dan menghancurkannya sehingga berhasil memasuki kota tersebut. Di situ mereka mengambil harta rampasan serta berhasil membunuh 12.000 penghuninya. Mereka juga memerangi beberapa raja yang tengah berkuasa di Syam. Kebetulan hari itu bertepatan dengan hari Jumat, sampai matahari hampir terbenam peperangan belum juga usai. Padahal menurut syariat, pada hari Sabtu dilarang berperang.

Memikirkan hal itu kemudian Nabi Yusya berdoa kepada Alah Ta’ala,

“Wahai matahari, sesungguhnya engkau tiada beda denganku, yaitu mengikuti perintah Allah. Aku bersujud mengikuti perintah-Nya. Ya Allah, tahanlah matahari itu agar tidak terbenam dulu.”

Berkat doa Nabi Yusya, Allah kemudian menahan terbenemnya matahari dan menahan bulan agar tidak menampakkan diri, hingga Nabi Yusya dan kaumnya berhasil menaklukkan daerah tersebut. Setelah perang usai Nbi Yusya beserta bala tentaranya mengumpulkansemua harta rampasan di suatu tempat. Tiba-tiba ada kilatan api dan menyambarnyatapi tidak membakarnya. Seketika Nabi Yusya berkata, “Diantara kalian masih ada yang berkhianat, yaitu masih menyimpan harta rampasan. Aku harap ada seorang dari kabilah yang bersumpah kepadaku.”

Kemudian datang satu persatu datang untuk disumpah. Sampai pada tangan Nabi Yusya lengket pada tangan dua atau tiga orang diantara mereka, “Ternyata kalian yang berkhianat.” kata Nabi Yusya. Akhirnya mereka mengeluarkan emas sebesar kepala sapi. Emas itu lantas diambil oleh Nabi Yusya dan dikumpulkan bersama harta rampasan lainnya di sebuah lapangan. Tiba-tiba ada kembali ada api yang datang menyambar. Tpi kali ini langsung melahap habis seluruh harta rampasan. Harta rampasan itu memang tidak pernah dihalalkan pada masa itu. Kemudian harta tampasan dihalalkan pad masa Nabi kita Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, karena melihat ketidak mampuan dan kelemahan pengikut Rasulullah pada masa itu.

Setelah itu Nabi Yusya memerintahkan kepada kaumnya (Bani Israil) di Baitul Maqdis setelah kota itu dapat mereka kuasai. Nabi Yusya memerintah sesuai dengan kitab Taurat sampai akhir hayatnya. Beliau wafat pada usia 127 th. Masa hidupnya setelah mangkatnya Nabi Musa adalah 27 th.

Dari: el-Fata edisi 04 Vol. III