Para ulama berbeda pendapat mengenai hal ini. Sebagian berpendapat bahwa haram hukumnya menghadap atau membelakangi kiblat kecuali berada dalam bangunan tertutup, beerdasarkan hadits Abu Ayub radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Janganlah kalian menghadap kiblat ketika buang air besar atau kecil, dan jangan membelakanginya, kan tetapi hendaklah kalian menghadap ke timur atau ke barat.” (karena pada saat itu Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berada di sebelah utara Masjidil Haram) (HR. Bukhari dan Muslim)

Ulama yang berpendapat bahwa haram hukumnya menghadap kiblat atau membelakanginya ketika bang air, mereka mengatakan bahwa hadits tadi mennunjukkan larangannya ketika berada di tempat terbuka selain dalam bangunan. Adapun kalo dalam bangunan, maka boleh menghadap atau membelakanginya. sebagian ulama yang lain berpendapat bahwa tidak boleh menghadap atau membelakanginya dalam segala hal, baik dalam bangunan tertutup atau tidak. Mereka bependapat dengan hadits Abu Ayub di atas. dan jawaban mereka terhadap hadits Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhu yang dijadikan alasan oleh kelompok pertama yaitu:

* Hadits Ibnu Umar sebelum adanya larangan menghadap atau membelakangi Ka’bah.

* Larangan tadi lebih kuat, karena larangan itu menghapus hukum asalnya yaitu kebolehan (menghadap kiblat), dan tentu menghapus lebih utama daripada yang dihapus.

* Hadits Abu Ayyub adalah ucapan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan hadits Ibnu Umar adalah perbuatannya, dan perbuatan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak mungkin berlawanan dengan ucapan beliau. Karena peerbuatan tersebut boleh jadi pengecualian dan boleh jadi terlupakan atau hal-hal lain yang menyebabkan tidak terlaksananya perbuatan tersebut.

TARJIH

Menurut saya, pendapat yang paling kuat dalam hal ini adalah bahwa haram hukumnya menghadap atau membelakangi kiblat di tempat terbuka, dan jika di tempat tertutup boleh membelakanginya tetapi tidak boleh menghadapinya, karena larangan menghadap tidak ada pengecualiannya, sedangkan larangan membelakanginyaa ditakhsiskan oleh perbuatan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, juga membelakanginya lebih enteng daripada menghadapinya. Oleh karena itu -walllahu a’lam- ada keringanan ketika berada dalam bangunan (tempat tertutup), walaupun demikian lebih afdhal tidak membelakanginya, kalau keadaan memungkinkan. (Fatwa tentang rukun Islam, Muhammad bin Shaleh Al-‘Utsaimin hal.212 no 131)