Oleh: Syeikh Abdullah bin Shalih al Fauzan

Dari Anas radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

Janganlah seseorang di antara kalian mengharap kematian karena musibah yang menimpa. Kalau memang harus mengharapkannya maka berkatalah, “Ya Allah, hidupkanlah aku kalau memang hidup lebioih baik bagiku dan matikan aku kalau memang mati lebih baik bagiku.” (Muttafaq ‘Alaih)

Maka seorang muslim dilarang untuk mengharapkan kematian disebabkan musibah yang menimpaseperti kemiskinan, kekurangan, hutang, sakit, terluka dan selainnya, karena dua alasan.

Pertama, bahwasanya ini menunjukkan atas keluh kesah karena bencana, dan tidak ridho dengan kektetapan Allah serta di dalamnya terdapat penentangan atas takdir yang ditetapkan. Sedangkan kewajiban muslim adalah ridho dengan ketetapan dan pasrah terhadap ketentuan Allah Ta’ala.

Kedua, bahwasanya tidak ada maslahat (kebaikan) di dalam mengharap kematian, bahkan terdapat kerusakan yang nyata, yaitu meminta hilangnya nikmat kehidupan dan faidah-faidah yang ada di dalamnya (kehidupan). Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Janganlah salah seorang diantara kalian mengharap kematian, jika dia berbuat baik mudah-mudahan bertambah (kebaikannya), jika dia berbuat salah mudah-mudahan dia bertaubat.” (Riwayat Bukhari dari hadits Abu Hurairah)

“Janganlah salah seorang diantara kalian mengharapkan kematian dan janganlah memintanya sebelum kematian itu dating. Sesungguhnya jika dia mati maka terputuslah semua amalannya, dan umur seorang mukmin hanyalah akan menambah kebaikan baginya.” (Riwayat Muslim)

Ini jika musibah yang menimpa berkaitan dengan keduniaan. Adapun jika menyangkut perkara akhirat maka sebagian ulama salaf telah berkata, bahwasanya jika musibah itu menyangkut perkara akhirat, seperti takut ditimpa fitnah dalam agamanya, maka tidak termasuk dalam larangan terserbut.

Dan telah disebutkan dalam shahih Ibnu Hiban dari Anas dengan lafadz,

“Janganlah seseorang diantara kalian mengharapkan kematian disebabkan musibah yang menimpa karena urusan dunia.”

Dan dari hadits Mu’adz yang panjang, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berdoa,

“Ya Allah saya memohon keada Engkau untuk berbuat kebaikan, meninggalkan kemungkaran, mencintai kemiskinan serta untuk mengampuniku dan merahmatiku. Dan jika Engkau menghendaki terjadi fitnah pada suatu kaum, maka matikanlah aku dengan tidak terfitnah.”

 

Sumber: majalah-NIkah vol.6 no.5