Do’a itu sungguh ringan, iya nggak? Sayangnya, sering terlalaikan. Padahal doa itu lebih ringan dari mengangkat sesuap nasi ke mulut dan tidak lebih berat dari menahan rasa lapar. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Apabila salah seorang dari kalian makan seuatu makanan, maka hendaklah mengucapkan “bismillah” (dengan nama Allah), dan bila lupa di awalnya hendaklah dia mengucapkan “bismillah fii awwalihi wa akhirihi” (dengan menyebut nam Allah di awal dan di akhirnya).” [Shahih Sunan At-Tirmidzi 2/167 no.1513 oleh Syeikh Al-Albani]

Dalam hadits yang lain dari sahabat yang membantu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam selama 18 tahun, dia bercerita, “Aku selama 18 tahun mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam apabila mendekati makanan mengucapkan “bismillah” [Riwayat Muslim]

Dalil tersebut shahih, sehingga menerangkan bahwa membaca ‘bismillah’ ketika makan dan minum adalah wajib dan berdosa bila meninggalkannya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepada ‘Umar bin Abi Salamah, “Wahai anak! Sebutlah nama Allah dan makanlah dengan tangan kananmu…” [Muttafaq ‘alaih]

Ibnu Qayyim berkata, yang benar adalah wajib membaca ‘bismillah’ ketika makan. Hadits-hadits yang menerangkan demikian adalah shahih dan sharih (terang). Tidak ada yang menyelisihinya serta tidak ada satupun ijma’ (kesepakatan) yang membolehkan untuk menyelisihinya dan mengeluarkan dari makna lahirnya. Orang yang meninggalkannyaakan ditemani setan dalam makan dan minumnya.

Bolehkah ditambah dengan bacaan ‘arrahmanirrahim’?

Syeikh Al-Albani dalam kitab beliau Silsilah al-Hadits ash-Shahihah (1/52) mengatakan, “Membaca tasmiyah di permulaan makan adalah ‘Bismillah’, tidak ada tambahan padanya. Semua hadits yang shahih dalam masalah ini tidak ada tambahan sedikitpun. Dan saya tidak mengetahui satu hadits pun yang yang di dalamnya ada tambahan (arrahmanirrahim).”

 

Dari: majalah-Nikah vol.6 no.5